Ramadhan di Gaza di Tengah Blokade dan Pemutusan Listrik

dakwatuna.com – Gaza. Sudah empat tahun rakyat Palestina di Jalur Gaza diblokade. Kini mereka sedang bersiap menyambut bulan ketaatan, ampunan, rahmat dan keridhaan, bulan Ramadhan yang penuh berkah, di tengah udara yang sangat panas menyergap warga Jalur Gaza dan bersamaan dengan terputusnya aliran listrik akibat terhentinya satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza karena Israel menghentikan pasokan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pengangkit listrik di Jalur Gaza karena otoritas Fatah di Ramallah menolak mentransfer dana ke Israel dengan dalih yang diada-adakan.

Koresponen Infopalestina bertemu dengan sejumlah warga Jalur Gaza dan bertanya kepada mereka tentang kesiapannya menyambut datangnya bulan Ramadhan di tengah suasana derita yang dialami warga di Jalur Gaza.

Fadi Dardasawi, warga Palestina berusia 40 tahun asal kota Gaza, mengatakan, “Ramadhan adalah bulan yang mulia. Datang setiap tahun dengan membawa banyak kejutan. Tahun ini Ramadhan datang sementara sebagian warga Jalur Gaza menganggur dari pekerjaan akibat blokade. Derita itu ditambah dengan terus terputusnya aliran listrik dalam jangka waktu lama di Jalur Gaza.”

Dia menambahkan, “Terputusnya aliran listrik di bulan Ramadhan itu berarti kematian kami secara perlahan di tengah meningkatnya suhu panas hingga di atas normal.” Dia menambahkan, “Ya Allah, ya Tuhan kami, tolonglah kami untuk pusa Ramadhan dengan sebaik mungkin.”

Departemen kesehatan Palestina sebelumnya telah mengingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan yang sesungguhnya di Jalur Gaza akibat terus terputusnya aliran listrik dalam jangka lama. Departemen kesehatan menyerukan kepada semua lembaga dan organisasi baik lokal maupun internasional untuk intervensi segera dan mensuplai bahan bakar ke dalam rumah sakit-rumah sakit, untuk melindungi nyawa ratusan pasien yang terbaring di rumah sakit. Kalau tidak maka bencana kemanusiaan besar bisa terjadi antara siang dan malam.

Mengenai kesiapannya untuk menyambut Ramadhan, Abu Ahmad mengatakan, “Terus terangan sampai saat ini saya belum membeli apa-apa. Harga terus tidak stabil. Kadang-kadang naik dan kadang-kadang turun. Untuk itu saya menunggu harga stabil agar bisa memenuhi kebutuhan, termasuk kebutuhan Ramadhan, seperti korma dan lain-lain.”

Akhiri Blokde

Tidak jauh berbeda dengan kondisi warga Palestina Abu Muhammad yang mengatakan, “Pertama saya memohon kepada Allah agar saya bisa disampaikan umur saya hingga Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiyat. Karena manusia tidak bisa menjamin hidup hingga besok.” Dia menambahkan, “Apa yang anda inginkan untuk saya katakana tentang Ramdhan tahun ini, padahal sama seperti setiap tahunnya, rakyat Palestina masih hidup di bawah blockade dzalim Zionis yang menolak mengakhirinya karena kelemahan Arab dan kaum muslimin.”

Dia melanjutkan, “Benar saya bisa memenuhi kebutuhan bulan Ramadhan, namun selain saya banyak yang tidak bisa membeli sebiji korman sekalipun untuk anak-anaknya akibat tidak adanya pekerjaan. Untuk itu saya serukan kepada semua orang kaya dan dermawan untuk menyumbangkan harga mereka dan mengukir senyum di wajah rumah-rumah yang tertutup di Jalur Gaza. Bulan ramadhan adalah bulan kesetiakawanan, persaudaraan, cinta dan setiap kebaikan di dalamnya dilipatgandakan.”

Khusus mengenai krisis listrik Abu Muhammad memberikan optimismen dengan mengatakan, “Sejak beberapa bulan kami hidup dalam krisis listrik. Betul hal itu akan mengeruhkan kebahagiaan Ramadhan dan puasa akibat panasnya suhu di musim panas ini. Namun hal itu tidak akan menimbulkan masalah bagi mereka. Saya yakin krisis ini akan teratasi dalam waktu dekat. Untuk itu, tidak perlua takut dan cemas.”

Otoritas Energi dan Sumber Daya Alam di Jalur Gaza telah menyatakan satu-satunya pembangkit tenaga listrik di Jalur Gaza berhenti, Sabtu (7/8), akibat tidak adanya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan, karena pasokan bahan bakar industri dipangkas oleh Zionis Israel. Kecuali hari ini ada pasokan dalam jumlah sangat terbatas dan hanya cukup untuk menyalakan satu gerdu selama 24 jam saja.

Warga Palestina lainnya, Abu Muadz, warga asal utara Jalur Gaza, mengatakan, “Harus ada persiapan menyambut Ramadhan dengan mempersiapkan diri membaca al Quran, menjaga dzikir, shalat lima waktu, iktikaf dan shalat malam.”

Dia menambahkan, “Satu-satunya yang baru di bulan Ramadhan tahun ini adalah tersedianya banyak barang kebutuhan Ramadhan karena Israel mengizinkan masuk sejumlah barang, selain penyelundupan melalui terowongan. Sehingga pasar-pasar di Jalur Gaza penuh dengan berbagai macam barang.” Namun daya beli masyarakat rendah karena banyak warga yang kehilangan pekerjaan akibat blockade.

Abu Muadz mengatakan, “Ramadhan tahun ini dating sementara banyak masalah menunggu rakyat Palestina yang sedang diblokade. Masalah blockade masih menjadi problem besar bagi rakyat Palestina, karena telah menghalangi mereka mendapatkan air dan udara. Masalah lain adalah terputusnya listrik dalam tempo yang lama di tengah-tengah kondisi yang sangat panas. “Bagaimana kami bisa berpusasa di tengah-tengah suhu yang sangat panas dan terputusnya aliran listrik, salah satu dari keduanya meringankan satu sama lain. Namun bila kedua-keduanya, Ya Allah ya Tuhan kami, tolonglah kami berpuasa di bulan mulia ini.” (asw/pip)

Sumber : dakwatuna.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s