batu bata itu mulai retak dan keropos….

merasa tak percaya apa yang sedang terjadi… dengan kupejamkan mata, kihirup udara dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan… semua itu untuk membuang semua kepenatanku selama ini… bukan karena pekerjaan yang menahanku di kantor lebih dari awal pagi hingga awal sepertiga malam….

bukan pula memikirkan kehidupan yang pelik, yang ternyata memang tak mudah untuk diarungi seorang diri… tapi ada yang lebih dalam dari itu… lebih menghabiskan banyak fikiran, tenaga dan dana untuk sampai kesana….

ya, perjalanan ini… perjalanan yang tidak terlihat nyata namun memang harus dibuat lebih nyata… perjalanan yang sangat sulit dimana setiap orang yang berada didalamnya seolah berkalan dengan mengangkat beban ratusan kilo pasir di atas punggungnya dan terus menerus ingin meletakkannya di garis finish tanpa tahu apa yang harus dilakukan kemudian terhadap onggokan pasir itu… yang tertanam dalam fikiran adalah hanya meletakkannya dan biarkan orang lain akan mengangkutnya entah untuk dipergunakan ataukah dibuang kedalam tempat sampah yang bau lagi kotor…

memang semua menjadi lebih membingungkan ketika bertemu persimpangan… persimpangan dimana terlalu banyak petunjuk arah dan terlalu banyak egoisme pribadi yang meracuni niat awal yang akhirnya membawa pada ketidak pastian dan seoalh ingin lari darinya…

lalu apa jadinya jalan ini jika diteruskan… bukankah hanya akan menjadi sebuah perjalanan yang sia-sia… yang hanya menghasilkan kelelahan fisik, mental, dan psikis….

Ngga… Allah ga menjajikan hal itu, yang kutahu Allah hanya menjanjikan surganya bagi hamba-hambanya yang istiqomah… yang tetap mengusung beban yang berat ini untuk kemudian membuatnya menjadi mudah bahkan tak terasa berat… meskipun beban itu terus menerus bertambah….

beruntung aku masih punya banyak saudara yang mau membantuku untuk memikul beban ini… begitu pula aku yang akan terus menacoba membantu memikul bersama beban mereka… bukan lagi AKU namanya jika terus menerus dalam keadaan ini…

Didepan sana terlihat jelas semua saudaraku yang lebih kuat meletakkan bebannya sejenak dan belari padaku untuk membantuku… ya membantu mengangkat bebanku… untuk kemudian bersama-sama kembali melanjutkan perjalanan…

ya… kini aku yakin akan janjiNya….
ku yakin janjiNya ga akan meleset, walau hanya sekecil apapun….
kurajut lagi mimpi itu, tak akan aku menginggalkan jalan ini walau hanya untuk bermain di kolam indah yang berada di ujung jauh kiri sana yang katanya pemandangan indah dan airnya sangat menyegarkan… apalagi disana aku bisa menikamati semua permainan yang kusuka, semua makanan yang terhidangpun sangat mengudang selera.. tak ada salahnya aku mampir… namun tidak… TIDAK AKAN KU LAKUKAN….

ya… memang menggiurkan tapi semua itu akan menghambat perjalananku… apa lagi jika aku merasa betah dan rela meninggalkan semuanya… dan aku tidak mau menghianati pengorbanan saudara-saudaraku, kepercayaan para pendahuluku… apalagi meninggalkan jalan perjuangan yang memang belum terlihat sama sekali ujungnya

Ya… batu bata itu beberapa saat yang lalu retak, retak diterjang gelombang badai yang luar biasa dahsyat… namun retaknnya sudah kutambal dengan paduan semen dan pasir, walaupun noda itu tak pernah hilang, biarkan dia menjadi bukti perjuanganku kelak…… kini akan kulanjutkan perjuanganku… tak akan kupedulikan orang-orang yang lemah, yang dengan mudah meletakkan bebannya begitu saja…

2 thoughts on “batu bata itu mulai retak dan keropos….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

belajar, bersaudara, berkarya

%d bloggers like this: